HEADLINE: Ketuk Palu MK untuk Larangan Penggunaan GPS Saat Berkendara

loading...


Rio Octaviano sebagai anggota Badan Kehormatan Road Safety Association (RSA) menyampaikan, ada dua aspek yang menjadi bahan analisa dalam polemik GPS. Pertama ialah mengakomodir arus teknologi informasi yang akan mempermudah pengendara, dan faktor keterampilan berkendara dengan tetap menghargai aturan lalu lintas.

“Seperti yang kita ketahui, bahwa instrumen berkendara ada beberapa hal antara lain, kemudi, persneling, pedal gas, dan spion. Masing-masing dari instrumen tersebut memiliki fungsi yang berbeda dalam hal ini, kami mencoba mengusulkan penggunaan GPS handphone diperlakukan seperti spion,” katanya.

Spion biasa digunakan penggendara dengan cara melirik, bukan dengan melihat secara intens. Maka, dalam aturan berkendara dengan konsentrasi, menambah kegiatan berkendara dengan cara melirik GPS dinilai bisa dipertimbangkan.

Namun ada catatan yang tidak boleh dilakukan pengendara, seperti mengubah rute, mengubah pengaturan aplikasi dan menjalankan aplikasi lainnya saat melaju.

Hal ini secara lisan disetujui oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi saat berbincang dengan Rio Octaviano. Meski demikian, ia melarang kegiatan lain yang dapat mengganggu konsentrasi saat berkendara.

“Bila saja pemerintah mau tetap melarang tanpa kompromi tentang penggunaan GPS pada handphone, maka, pemerintah wajib melarang mobil-mobil yang melengkapi fitur GPS, telpon, bahkan mirroring handphone yang bisa buat menonton,” tutup Rio.

Ada aturan yang melarang pengendara menggunakan GPS saat mengemudi, jika dilanggar sanksi denda dan pidana kurungan menanti.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *